Memulai bisnis tidak selalu harus dari ide yang rumit atau modal besar. Terkadang, peluang justru datang dari lingkungan terdekat dan keberanian untuk melihat pasar dari sudut yang berbeda.
Hal inilah yang dialami oleh Baihaki, pendiri PT Butuh Lakban Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Butuhlakban. Berawal dari tawaran sederhana seorang teman yang memiliki pabrik lakban, kini bisnis yang ia bangun mampu menghasilkan omzet miliaran rupiah per bulan dan memasok kebutuhan lakban industri ke berbagai daerah di Indonesia.
Awal Mula Melihat Peluang Bisnis Lakban
Sebelum terjun ke bisnis lakban, Baihaki sebenarnya masih bekerja sebagai karyawan. Saat itu, seorang temannya yang memiliki pabrik lakban menawarkan kesempatan untuk membantu menjual produknya.
Alih-alih langsung menjual secara umum, Baihaki mencoba melakukan riset kecil-kecilan terlebih dahulu. Dari hasil riset tersebut, ia menemukan satu pola menarik: sebagian besar orang hanya berpikir menjual lakban ke toko fotokopi atau pasar retail.
Dari situlah muncul peluang yang jarang dilirik.
Menurut Baihaki, masih sangat sedikit yang fokus menjual lakban langsung ke pabrik dan industri. Padahal, wilayah seperti Cikupa, Tangerang, dipenuhi kawasan industri dan pergudangan yang memiliki kebutuhan adhesive tape dalam jumlah besar setiap harinya.
Ia pun mulai mencoba strategi direct selling ke pabrik-pabrik.
“Berarti saya masih ada peluang untuk menjualnya ke industri,” ungkap Baihaki saat mengenang awal perjalanan bisnisnya.”
Memulai Bisnis Sambil Tetap Menjadi Karyawan
Perjalanan membangun Butuhlakban tidak langsung mulus. Pada awal merintis usaha, Baihaki masih bekerja sebagai karyawan.
Pagi hari ia bekerja seperti biasa, sementara siang hingga sore digunakan untuk menawarkan produk lakban secara langsung ke berbagai pabrik. Ia membawa sampel produk sendiri dan melakukan penawaran dari satu tempat ke tempat lain.
Menurutnya, banyak calon pengusaha yang ingin langsung resign sebelum bisnisnya stabil. Padahal, pada fase awal, membangun usaha sering kali membutuhkan “tenaga dobel”.
Baru pada tahun 2019, setelah bisnis mulai berkembang, Baihaki memutuskan untuk fokus penuh menjalankan usahanya.
Dari Usaha Kecil hingga Menjadi PT Butuh Lakban Indonesia
Bisnis ini awalnya dijalankan sendirian, mulai dari membuat penawaran, mencari pelanggan, hingga mengurus pengiriman barang.
Dengan modal pribadi tanpa investor, Baihaki mendirikan usaha berbadan hukum CV Triraksa Jaya Mandiri pada tahun 2018. Dalam perjalanannya, nama tersebut berkembang menjadi PT Butuh Lakban Indonesia atau Butuhlakban.
Saat ini, Butuhlakban dikenal sebagai perusahaan aggregator lakban yang melayani berbagai kebutuhan industri, mulai dari:
- lakban industri,
- lakban custom logo,
- kebutuhan adhesive tape,
- hingga packaging untuk distributor dan marketplace.
Perusahaan ini juga melayani produksi maklun atau printing untuk kebutuhan merek sendiri.
Menyasar Pasar B2B Industri
Salah satu strategi yang membuat Butuhlakban berkembang adalah fokus pada pasar B2B (Business to Business).
Target konsumennya bukan hanya retail kecil, tetapi langsung ke:
- pabrik,
- gudang,
- manufaktur,
- industri makanan dan minuman,
- hingga perusahaan packaging.
Saat ini, Butuhlakban disebut mampu memasok:
- sekitar 13.000 karton per bulan untuk wilayah Jabodetabek,
- dan sekitar 4.000 karton per bulan untuk wilayah Jawa Timur.
Produk yang dijual pun sangat beragam, mulai dari:
- lakban bening,
- lakban cokelat,
- masking tape,
- cloth tape,
- foam tape,
- double tape,
- floor marking,
- lakban fragile,
- hingga plastic wrapping dan sealant.
Namun, menurut Baihaki, produk dengan permintaan tertinggi tetap lakban OPP bening dan cokelat.
Strategi Bertumbuh Tanpa Memiliki Pabrik Sendiri
Menariknya, hingga saat ini Butuhlakban belum memiliki pabrik sendiri.
Alih-alih memaksakan investasi besar untuk membangun fasilitas produksi, Baihaki memilih fokus membangun pasar dan distribusi terlebih dahulu.
Awalnya, pasokan hanya berasal dari satu pabrik milik temannya. Namun seiring pertumbuhan bisnis dan meningkatnya omzet, kini Butuhlakban telah bekerja sama dengan lima pabrik di berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang.
Menurut Baihaki, kepercayaan dari para mitra menjadi salah satu modal terbesar dalam mengembangkan bisnis ini.
Menggabungkan Strategi Offline dan Digital
Meski era digital berkembang pesat, Baihaki melihat bahwa pasar industri masih sangat mengandalkan hubungan langsung dan pelayanan offline.
Karena itu, strategi direct selling tetap dipertahankan hingga sekarang.
Menurutnya, banyak perusahaan lebih nyaman bekerja sama dengan supplier yang:
- mudah dihubungi,
- bisa melakukan follow up langsung,
- memberikan tempo pembayaran,
- dan memiliki layanan pengiriman cepat.
Butuhlakban bahkan menerapkan layanan pengiriman cepat dan garansi produk untuk menjaga kenyamanan pelanggan industri.
Di sisi lain, perusahaan juga mulai serius mengembangkan pemasaran digital melalui:
- website,
- marketplace,
- media online,
- dan optimasi SEO.
Saat ini, penjualan online masih sekitar 30%, namun ke depannya ditargetkan bisa seimbang dengan penjualan offline.
Pentingnya Branding dan Storytelling dalam Bisnis
Baihaki percaya bahwa konsumen modern tidak hanya membeli produk, tetapi juga ingin mengenal cerita di balik sebuah brand.
Karena itu, selain mengoptimasi website Butuhlakban, ia juga aktif membangun eksposur melalui media massa dan berbagai platform digital.
Menurutnya, generasi saat ini lebih mudah mengingat brand yang memiliki cerita dan perjalanan bisnis yang kuat.
Pendekatan inilah yang membuat Butuhlakban tidak hanya dikenal sebagai penjual lakban, tetapi juga sebagai brand dengan perjalanan bisnis yang inspiratif.
Distribusi ke Seluruh Indonesia dan Target Jangka Panjang
Saat ini, distribusi produk Butuhlakban telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
Meski demikian, Baihaki merasa peluang pasar adhesive tape di Indonesia masih sangat besar.
Saat ini, Butuhlakban memiliki omzet sekitar Rp1 miliar per bulan dan telah memasok kebutuhan lakban ke lebih dari 150 perusahaan dari berbagai sektor industri.
Ke depan, perusahaan berencana:
- memperluas jaringan distributor daerah,
- memperkuat penjualan online,
- meningkatkan branding digital,
- hingga membuka peluang kerja sama investor.
Kesimpulan
Perjalanan Baihaki membangun Butuhlakban menunjukkan bahwa peluang bisnis bisa datang dari hal sederhana, asalkan dibarengi keberanian melihat celah pasar dan konsistensi menjalankannya.
Dari direct selling sambil bekerja sebagai karyawan hingga mampu memasok kebutuhan lakban industri ke berbagai wilayah Indonesia, perjalanan ini menjadi contoh bahwa bisnis B2B tetap memiliki peluang besar jika dijalankan dengan strategi yang tepat.
Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, kombinasi antara pelayanan, distribusi, branding, dan optimasi digital menjadi fondasi penting untuk membangun bisnis jangka panjang.





satu Respon
Purworejo pride mas